Hari ini tanggal 22 Desmber 2013 tepatnya hari ini HARI IBU . Aku mau posting Cerpen tentang HARI IBU, langsung aja yukk:)
HADIAH HARI IBU
Kupandangi kalender di meja
belajarku dan menghela napas. Seminggu lagi adalah hari Ibu sedunia.
Jujur aku sendiri, di usiaku yang telah menginjak 20 tahun, tidak begitu
akrab lagi dengan Mama tercinta. Rasanya banyak hal yang berubah di
antara kami berdua, apalagi sejak kelahiran Mimi, adik perempuan semata
wayangku, yang adalah anak kesayangan keluarga. Lama kelamaan aku jadi
jarang curhat dengan Mama, padahal, saat Mimi masih kecil dulu kami
masih sering bercerita bersama tentang hari kami.
Kulirik lagi kalender itu, dan membolak-balikkannya. Aku teringat, sudah
lama aku tidak langsung menyerahkan hadiah hari Ibu pada Mama. Aku
lebih banyak menitipkannya pada adikku Mimi untuk diserahkan pada Mama,
sudah lama pula aku tidak langsung mengatakan ‘Selamat Hari Ibu’ pada
Mama…
Apakah tahun ini juga akan sama saja? Berlalu dengan ketidaknyamanan
seperti ini? Jujur aku sendiri tidak menyukainya. Mungkin hari Ibu nanti
adalah saat yang tepat untuk memperbaiki semuanya dengan Mama. Aku
ingin kembali akrab dengan Mama, tapi kalau menunggu saat yang paling
tepat akan jadi terlalu lama. Ulang tahun Mama masih bulan Desember
mendatang.
Aku mulai mencari ide untuk hadiah Hari Ibu, kira-kira apa yang bisa
menjadi sesuatu yang berkesan bagi Mama di tahun ini. Ah… bingung juga
aku. Mungkin sebaiknya aku telepon Shevan saja, dia paling kreatif soal
hadiah.
“Halo, Shevan ya? Ini aku, Nana. Kau sibuk?”
“Nana ya? Ada apa?”
“Aku mau minta saran nih… nanti apa yang kau berikan untuk ibumu, Shevan, untuk hari Ibu nanti?”
“Ibuku suka menanam bunga. Dia sudah lama ingin tulip, jadi aku sudah siapkan tunas umbi terbaik untuknya.”
“Begitu ya… ‘makasih ya, Shevan. Bye.”
“Sama-sama. Bye-bye.”
Sambungan terputus. Lalu aku mulai
menghubungi teman-temanku yang lain, menanyakan hal yang sama. Ada yang
memberikan taplak sulaman, ada yang membelikan rangkaian bunga carnation
khas Hari Ibu, dompet, buku kesukaan, pajangan kristal, vas antik,
sampai perhiasan dan parfum impor dari luar negeri! Mereka semua
kebanyakan akan memberikan apa yang disukai atau sedang diinginkan oleh
ibu mereka. Semua itu tidak memberikan inspirasi apapun di benakku.
Aku tidak bisa memikirkan sesuatu yang bisa berkesan untuk Mama. Kali
ini harus spesial, tidak bisa biasa-biasa saja. Tapi apa ya… bunga? Itu
sih semua orang juga bisa. Pajangan? Kamar Mama sudah penuh dengan
pajangan pilihan Mimi untuknya. Masakan? Akh, sejak kapan masakanku enak
di lidah orang lain. Pikiranku kembali dibingungkan. Aku menyesal
mengapa selama ini aku tidak akrab dengan Mamaku sendiri…
Suara dentingan piano dan nyanyian gospel songs mengalun dari ruang
tamu. Itu pasti Papa dan Mama yang sedang berlatih untuk misa hari
Minggu besok. Nyanyian Mama selalu indah didengar, dan aku tidak pernah
bosan mendengarkannya. Aku juga suka menyanyi, apalagi dengan bakat dari
Mama yang menurun padaku.
Tunggu dulu! Aku sudah menemukan apa yang bisa kuhadiahkan pada Mama
nanti! Mama pasti akan sangat menyukainya, aku yakin itu. Segera
kutelepon Dave, tetangga sebelah rumahku yang juga guru piano.
“Dave! Aku ada sesuatu yang perlu bantuanmu. Aku ke tempatmu sekarang ya!” kataku antusias, “Kau punya CD recorder ‘kan?”
“Tenang, Na. Ada, tapi buat apa kau minta tiba-tiba?”
“Bantu aku mengiringi nyanyian gospel songs ya,” kataku.
“Oh… saat ini aku sedang mengajar. Besok jam 3 sore ya,” kata Dave.
“Oke. See you.”
Segera aku kembali ke kamarku, memilah-milih lagu-lagu dan gospel songs
yang kira-kira Mama sukai. Sepanjang sore hari aku habiskan dengan
melatih nada-nada dan menyortir lagu. Benar-benar menyenangkan. Aku
tidak pernah merasakan antusiasme yang begitu besar selama ini.
Keesokan harinya, sesuai janji aku menemui Dave di rumahnya untuk
menjalankan rencanaku. Setiap sore kami akan berlatih menyanyi diiringi
oleh alunan musik pianonya. Alhasil, dalam lima hari aku sudah menguasai
semua lagu yang kupilih saat itu dengan baik, totalnya ada 11 lagu.
Hari keenam semua lagu itu sudah terekam dengan apik ke CD kosong yang
kusiapkan. Kami benar-benar puas dengan hasil usaha kami berdua.
“Terima kasih banyak, Dave,” kataku penuh syukur, memeluk Dave sejenak.
“Happy to help , Na, sekarang kau tinggal menyerahkannya besok.”
“Iya…” jawabku. Ada rasa gugup yang langsung menyergap diriku. Benar
juga, bagaimana ini… besok adalah waktunya menyerahkan karyaku ini pada
Mama. Bagaimana kalau beliau tidak menyukainya?
“Kenapa, kau ragu, Na?” tanya Dave, menyadari perubahan ekspresi wajahku.
“Bagaimana kalau Mama tidak suka ya? Bagaimana kalau suaraku kurang bagus? Mungkin saja hadiah Mimi lebih bagus dariku.”
“Kau tidak boleh berpikir seperti itu dong, Na. Kau sudah berusaha, dan
kau hebat. Percayalah, ibumu pasti akan sangat menyukainya.”
“Thank you Dave. Oh ya, omong-omong, bagaimana dengan hadiah Hari
Ibu-mu? Kau sudah menyiapkannya? Belakangan ini kau sibuk melatihku
saja.”
“Tenang saja. Aku sudah menyiapkannya. Daripada menguatirkan aku, kau
lebih baik bersiap-siaplah. Bungkus hadiahnya, latihan supaya tidak
gugup, dan sebagainya.”
“Oke,” senyumku, berpamitan dengan Dave untuk pulang ke rumah. Hari
sudah gelap saat aku keluar dari rumah Dave, namun aku merasa waktu yang
kuhabiskan bersama dengan Dave sangat menyenangkan.
Malam penuh persiapan itu terasa sangat cepat berlalu bagiku, membuatku
lelah dan jatuh tertidur dengan cepat, dengan pagi yang datangnya cepat
pula. Aku terbangun mendengar suara kicauan burung dan kehangatan sinar
matahari yang menelusup ke dalam kamarku dari jendela. Aku membuka
mataku dan menyadari bahwa ini adalah harinya. Hari yang telah
kurencanakan sejak seminggu yang lalu. Kembali sedikit kegugupan
menyergap, tapi tidak sebesar kemarin. Aku pun beranjak menuju ke dapur
setelah bebersih diri. Pagi di hari libur kerja memang menyenangkan dan
terasa menyegarkan.
“Pagi, Nana.”
“Eh?! P-pagi Ma…” Sapaan Mama mengejutkanku yang sedang melamun menyiapkan sarapanku di dapur.
“Wah… cantik sekali kado ini. Untuk Mama ya?” tanya Mama, menyadari
hadiah mungil yang kutaruh di meja makan, sudah bertuliskan ‘to : Mama’
di atasnya.
“I-iya Ma, selamat hari Ibu ya…” kataku terbata.
“’Makasih ya Sayang,” kata Mama, merangkulku dan mengecup keningku sejenak, “boleh Mama buka sekarang?”
“Tentu aja, Ma,” senyumku gugup. Dengan hati-hati Mama membuka bungkus kadoku, dan menemukan CD laguku.
“CD musik? ‘Gospel and Love Songs By : Nana’. Ini kamu yang nyanyikan
sendiri, Sayang?” tanya Mama, matanya tampak berbinar antusias,
membuatku sedikit lega melihatnya.
“Iya, Ma. Tapi Dave yang bantu aku soal musiknya.”
“Mama pengen dengarkan sekarang aja, bisa pinjamkan Discman kamu, Na?”
tanya Mama. Segera aku mengiyakan dan lari kembali ke atas, membawakan
Discman untuk Mama. Mama adalah ibu rumah tangga yang melek teknologi,
aku tidak perlu mengajarkannya cara menggunakan Discmanku, beliau
langsung bisa menggunakannya dengan lancar.
Mama adalah wanita yang sangat menyenangkan bagiku, ia lebih mirip
temanku daripada ibuku sendiri. Aku sangat menyayanginya. Aku menatapi
wajahnya yang mulai menua, namun dengan kecantikan dan wibawa yang
hampir tidak pernah bisa dimakan waktu, rambut coklat ikal, sebahunya
yang berkilau diterpa cahaya matahari, wajah ovalnya yang cantik yang
menurun padaku dan Mimi, dan matanya yang kini terpejam, menikmati
alunan musik dari headphone. Entah aku membayangkannya atau tidak, aku
bisa melihat semburat kemerahan di wajah beliau kala mendengarkan musik,
dan firasatku mengatakan bahwa beliau memang menyukai nyanyianku yang
kuhadiahkan pada beliau.
Beberapa saat kemudian, Mama melepaskan headphone-nya dan menatap ke dalam mataku, penuh kelembutan.
“Rasanya seperti dulu lagi… saat Mama pertama kali melihat kamu menyanyi
di gereja. Mama sangat bangga padamu, Nana. Suaramu, masih seindah dan
sejernih yang Mama kenal. Terima kasih banyak ya, Sayang. Mama suka
sekali.”
“Hehehe… ini semua ‘kan karena Mama juga, karena Mama yang menurunkan bakat menyanyi dan suara ini buat Nana.”
“Suara setiap orang punya warna yang berbeda, Na, dan kamu juga spesial.
Sejak lama Mama juga ingin sekali bisa lebih sering bernyanyi sama-sama
kamu, Sayang. Kamu mau ikut koor untuk pertunjukan minggu depan di
gereja, Na?” tanya Mama dengan antusiasnya, menyentuh bahuku. Aku tidak
percaya ini, Mama yang juga anggota koor di gerejaku, memintaku untuk
ikut pertunjukan tanpa audisi! Padahal sulit sekali bagi para peserta
lain untuk ikut dalam pertunjukan karena ketatnya seleksi. Luar biasa!
“Yang benar, Ma? Boleh?!” tanyaku ikut antusias. Mama mengangguk mengiyakan.
“Mama ingin sekali mendengar nyanyianmu langsung, Sayang. Selama ini…
kita agak renggang. Gimana kalau kita mulai lagi dari awal? Yang baru
tentunya.”
“Iya, tentu aja, Ma, ‘makasih banyak ya Ma,” kataku dengan suara
bergetar, air mata kebahagiaan mengalir tak terbendung. Puji Tuhan, niat
dan usahaku tidak tersia-siakan. Ini adalah Hari Ibu terindah dan
paling membahagiakan bagiku.
FINISH
Ads