Rasa marah dalam hatiku masih menggelora. Betapa tidak? Sahabatku
sendiri, sahabatku satu-satunya, mengkhianatiku. Ia pergi meninggalkan
diriku dengan janji-janji palsunya. Percuma saja, selama 3 tahun
terakhir, aku berteman dengannya, dan selama 3 tahun itu pula, aku
terbuai dengan bualan-bualan mautnya. Aku benci dia.
Aku masih ingat betul, janji-janji yang ia ucapkan padaku. Ia akan
selalu menemaniku, setiap saat, selalu menghibur saat sedih, dan tak
pernah menutup rahasia. Tapi… semua itu adalah bohong besar. Ia tak
pernah melakukan semua itu.
Sifatnya yang membuatku muak, akhirnya terbongkar. Ia sama sekali
tidak memperdulikanku. Ini semua bermula dari Yusuf. Yusuf adalah anak
paling ganteng menurut sahabatku. Ya… itu menurut sahabatku, bukan
menurutku. Tapi, setiap kali aku bertanya apakah dia suka sama Yusuf,
dia selalu berkata ‘tidak’. Tapi sifatnya yang selalu ingin dekat-dekat
dengan Yusuf, membuatku tak dapat tertipu.
Yahhh… aku sih fine-fine saja, karena dia masih peduli padaku. Tapi
setelah beberapa bulan, ia melupakanku. Ia pergi bersama seseorang yang
menurutnya lebih penting daripadaku. Saat aku ingin berbicara dengannya,
saat itu pula ia tak ingin berbicara denganku. Ia lebih ingin
bermanja-manja dengan pengerannya. Malah sekarang, ia punya tempat
mangkal sendiri. Tepat di pojok kelas. Di bangku paling belakang. Kenapa
sahabatku memilih bangku yang menurutku tak nyaman ini? karena pangeran
hatinya, tepat ada di depannya. Jadi, sahabatku ini bisa dengan leluasa
menatap mata jernih pujaan hatinya. Beuh…
Dia tak tahu, kalau di sisi lain, sahabatnya sedang merana. Merana
karena ditinggal orang terdekatnya. Dalam hati, aku selalu ingin
menangis, selalu ingin mencacimaki sahabatku sendiri. Namun aku tak
segila dan sebodoh itu. Aku selalu berfikir, setan apa yang merasuki
tubuh sahabatku tercinta? sampai dia lebih memilih seorang yang
menurutku sangat jelek, daripada aku?
Tepat tanggal 18 September 2013, aku berulang tahun. Ia memberikanku
sebuah boneka Hello Kitty yang lucu. Betapa senangnya aku. Yang
membuatku semakin senang, karena selama hari itu, ia memperhatikanku.
Mukanya tak sekalipun berpaling pada Yusuf. Yes… sorakku dalam hati. Aku
harus membuat sahabatku ini insaf dari kegilaannya.
Tapi, apa artinya sebuah boneka Hello Kitty yang sangat lucu, kalau
esoknya, ia kembali melupakanku? Apa artinya? Ia sama sekali tak
menggubrisku, yang difikirkannya hanya Yusuf… dan Yusuf. Dasar Yusuf,
pergilah jauh-jauh dari hidupku. Bawalah wajahmu yang sejelek tikus got!
Hari ini, hari dimana antara hidup dan mati. Hari dimana hasil tes
Bahasa Inggris akan dibagikan. Hatiku dag-dig-dug. Berdebar, debar
menanti kertas putih itu mendarat di mejaku. 90. Itulah yang aku dapati
di kertas yang bertuliskan namaku, ‘Anastasia Bella’. Aku menarik nafas
lega. Kuhampiri meja sahabatku.
“Dapat berapa?” aku bertanya sambil mencoba melirik kertas tes-nya.
“Ahhh… enggak mau, nilaiku jelek,” dia berkata bagaikan petir, sambil berlalu pergi.
‘Katanya tak pernah menyembunyikan rahasia, nyatanya apa?’ kataku dalam hati, memendam amarah.
Akhir-akhir ini aku menjauhi sahabatku. Mencoba menyingkir dari
kehidupannya. Mencoba menyingkir, agar tidak mengganggu hubungannya
dengan Yusuf. Dan sepertinya dia tidak memperdulikan aku yang sedang
marah. Padahal, jelas-jelas aku memperlihatkan tatapan mataku yang aku
buat sinis di depannya, dan bibir yang sedikit kumajukan. Tapi dia sama
sekali tidak meladeninya.
Suatu hari, pelajaran TIK sedang berlangsung. Aku duduk bersebelahan
dengan Yusuf di Lab. Komputer. Sementara sahabatku berada nun jauh
disana, tapi aku masih bisa melihatnya.
Kali ini, bukan guru killer yang sudah ubanan yang mengajar, tapi
seorang guru muda yang sangat sabar. Setelah selesai mengerjakan tugas
di komputer, kami semua diberikan waktu bebas, sambil menunggu waktu
pulang. Tentu saja, semua dengan semangat 45, membuka games, yang
pastinya ada di setiap komputer.
Yusuf sendiri pindah, ia bergabung bersama teman-teman laki-lakinya
yang sama-sama badung. Lalu membuka games balap mobil. Suara mereka
sangat ramai, tapi sepertinya guru yang sabar dan baik hati itu tak
memperdulikan keramaian murid-muridnya. Ia sendiri sibuk dengan
komputernya, entah melakukan apa.
Kalau ada Yusuf, pasti ada sahabatku. Huuhh… aku tak mau melihat hal
itu lagi. Terserah, kalian berdua mau tertawa-tawa bersama, sampai mulut
kalian pegal, aku tidak perduli.
Sesekali sahabatku itu memperhatikanku. Eh, bukan sahabat, sekarang
dia bukan sahabatku, tapi hanya teman. Aku tegaskan… HANYA T-E-M-A-N.
Tapi aku selalu mebuang muka padanya. Apa iya, ia baru sadar akan
sikapnya yang sudah gila selama ini?
“Kamu marah ya sama aku?” tanyanya seusai sekolah bubar.
Aku tak menanggapinya. Luka dalam hatiku terlanjur dalam. Selamat tinggal n bye…
Sumber
disini.