Sabtu, 21 Desember 2013

Selamat Tinggal

Diposting oleh Annisa di 16.15

Rasa marah dalam hatiku masih menggelora. Betapa tidak? Sahabatku sendiri, sahabatku satu-satunya, mengkhianatiku. Ia pergi meninggalkan diriku dengan janji-janji palsunya. Percuma saja, selama 3 tahun terakhir, aku berteman dengannya, dan selama 3 tahun itu pula, aku terbuai dengan bualan-bualan mautnya. Aku benci dia.
Aku masih ingat betul, janji-janji yang ia ucapkan padaku. Ia akan selalu menemaniku, setiap saat, selalu menghibur saat sedih, dan tak pernah menutup rahasia. Tapi… semua itu adalah bohong besar. Ia tak pernah melakukan semua itu.
Sifatnya yang membuatku muak, akhirnya terbongkar. Ia sama sekali tidak memperdulikanku. Ini semua bermula dari Yusuf. Yusuf adalah anak paling ganteng menurut sahabatku. Ya… itu menurut sahabatku, bukan menurutku. Tapi, setiap kali aku bertanya apakah dia suka sama Yusuf, dia selalu berkata ‘tidak’. Tapi sifatnya yang selalu ingin dekat-dekat dengan Yusuf, membuatku tak dapat tertipu.
Yahhh… aku sih fine-fine saja, karena dia masih peduli padaku. Tapi setelah beberapa bulan, ia melupakanku. Ia pergi bersama seseorang yang menurutnya lebih penting daripadaku. Saat aku ingin berbicara dengannya, saat itu pula ia tak ingin berbicara denganku. Ia lebih ingin bermanja-manja dengan pengerannya. Malah sekarang, ia punya tempat mangkal sendiri. Tepat di pojok kelas. Di bangku paling belakang. Kenapa sahabatku memilih bangku yang menurutku tak nyaman ini? karena pangeran hatinya, tepat ada di depannya. Jadi, sahabatku ini bisa dengan leluasa menatap mata jernih pujaan hatinya. Beuh…
Dia tak tahu, kalau di sisi lain, sahabatnya sedang merana. Merana karena ditinggal orang terdekatnya. Dalam hati, aku selalu ingin menangis, selalu ingin mencacimaki sahabatku sendiri. Namun aku tak segila dan sebodoh itu. Aku selalu berfikir, setan apa yang merasuki tubuh sahabatku tercinta? sampai dia lebih memilih seorang yang menurutku sangat jelek, daripada aku?
Tepat tanggal 18 September 2013, aku berulang tahun. Ia memberikanku sebuah boneka Hello Kitty yang lucu. Betapa senangnya aku. Yang membuatku semakin senang, karena selama hari itu, ia memperhatikanku. Mukanya tak sekalipun berpaling pada Yusuf. Yes… sorakku dalam hati. Aku harus membuat sahabatku ini insaf dari kegilaannya.
Tapi, apa artinya sebuah boneka Hello Kitty yang sangat lucu, kalau esoknya, ia kembali melupakanku? Apa artinya? Ia sama sekali tak menggubrisku, yang difikirkannya hanya Yusuf… dan Yusuf. Dasar Yusuf, pergilah jauh-jauh dari hidupku. Bawalah wajahmu yang sejelek tikus got!
Hari ini, hari dimana antara hidup dan mati. Hari dimana hasil tes Bahasa Inggris akan dibagikan. Hatiku dag-dig-dug. Berdebar, debar menanti kertas putih itu mendarat di mejaku. 90. Itulah yang aku dapati di kertas yang bertuliskan namaku, ‘Anastasia Bella’. Aku menarik nafas lega. Kuhampiri meja sahabatku.
“Dapat berapa?” aku bertanya sambil mencoba melirik kertas tes-nya.
“Ahhh… enggak mau, nilaiku jelek,” dia berkata bagaikan petir, sambil berlalu pergi.
‘Katanya tak pernah menyembunyikan rahasia, nyatanya apa?’ kataku dalam hati, memendam amarah.
Akhir-akhir ini aku menjauhi sahabatku. Mencoba menyingkir dari kehidupannya. Mencoba menyingkir, agar tidak mengganggu hubungannya dengan Yusuf. Dan sepertinya dia tidak memperdulikan aku yang sedang marah. Padahal, jelas-jelas aku memperlihatkan tatapan mataku yang aku buat sinis di depannya, dan bibir yang sedikit kumajukan. Tapi dia sama sekali tidak meladeninya.
Suatu hari, pelajaran TIK sedang berlangsung. Aku duduk bersebelahan dengan Yusuf di Lab. Komputer. Sementara sahabatku berada nun jauh disana, tapi aku masih bisa melihatnya.
Kali ini, bukan guru killer yang sudah ubanan yang mengajar, tapi seorang guru muda yang sangat sabar. Setelah selesai mengerjakan tugas di komputer, kami semua diberikan waktu bebas, sambil menunggu waktu pulang. Tentu saja, semua dengan semangat 45, membuka games, yang pastinya ada di setiap komputer.
Yusuf sendiri pindah, ia bergabung bersama teman-teman laki-lakinya yang sama-sama badung. Lalu membuka games balap mobil. Suara mereka sangat ramai, tapi sepertinya guru yang sabar dan baik hati itu tak memperdulikan keramaian murid-muridnya. Ia sendiri sibuk dengan komputernya, entah melakukan apa.
Kalau ada Yusuf, pasti ada sahabatku. Huuhh… aku tak mau melihat hal itu lagi. Terserah, kalian berdua mau tertawa-tawa bersama, sampai mulut kalian pegal, aku tidak perduli.
Sesekali sahabatku itu memperhatikanku. Eh, bukan sahabat, sekarang dia bukan sahabatku, tapi hanya teman. Aku tegaskan… HANYA T-E-M-A-N. Tapi aku selalu mebuang muka padanya. Apa iya, ia baru sadar akan sikapnya yang sudah gila selama ini?
“Kamu marah ya sama aku?” tanyanya seusai sekolah bubar.
Aku tak menanggapinya. Luka dalam hatiku terlanjur dalam. Selamat tinggal n bye…

Sumber disini.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Annisa Della Shafira Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review